Sobat, apa kabarmu di sana?
Sekian tahun terpisah oleh jarak, bukankah tak pernah kita benar-benar berpisah... Ada email, ada sms, ada telpon.
Dan bukankah hati kita tetap dekat? :-)
Dulu, perkenalan kita diawali oleh tanyaku yang tergesa karena merasa terlambat, dosennya belum datang, ya? Belakangan kau bilang, untung aku menegur lebih dulu waktu itu karena sulit bagimu untuk memulai percakapan denganku. Masa sih? Heranku tak habis pikir. Katamu lagi, aku tipe perempuan yang menimbulkan rasa segan. Seolah selalu punya tujuan dengan apa yang kulakukan dan karenanya bahasa tubuhku berkata, jangan coba-coba mengusik dengan hal tak penting. Ha ha.... ada-ada saja.
Tapi mungkin ada benarnya, buktinya ketika aku bertualang ke Bali selama dua minggu atau pulang ke rumah menyeberangi laut sendirian, tak ada orang iseng yang berani jail. Aman... :-)
Sejak itu kau adalah sahabat terbaikku. Kau mengenal dan memahamiku dengan sangat baik, begitu pun sebaliknya. Walau kadang pengenalanmu tentangku membuatku heran; oya, aku begitu? Ha ha... Aku sadar, kadang perlu orang lain untuk menilai diri kita. Dan seorang sahabat adalah yang terbaik untuk itu, yang akan mengatakan sejujurnya juga hal yang tak ingin kita dengar.
Kedekatan kita juga sempat membuat teman kampus berkasak-kusuk. Ingat? Andai mereka tahu, kamu justru pernah menjadi kurir ketika aku mengirim puisi pada seorang cowok. Ha ha...heran juga, aku pernah sekonyol itu, ya...
Waktu itu kamu bilang, dia tidak pantas menerimanya, dia tidak mengenalku yang sebenarnya dan tidak berniat untuk memahami orang lain selain dirinya. Kamu benar, meski aku sempat keras kepala, waktu akhirnya membuktikan kalau kamu benar, sobat.
Kau tahu, ada masa ketika aku rindu sekali berbincang bebas denganmu, tanpa dibatasi pulsa! :-) Bukankah kita biasa mendiskusikan apa saja dulu? Kita pernah merumuskan apa yang harus kita capai dalam hidup, kita berdebat, menyisihkan hal yang tak perlu dan bersepakat. Kita juga pernah mendiskusikan fakta-fakta kehidupan yang sering disalahtafsirkan, atau mencari kemungkinan penafsiran baru. Kita pun pernah membincangkan; apa ya, yang sedang dilakukan Tuhan saat ini?
Namun kau juga ingat kan, kita sering tak sepakat terutama bila menyangkut akhir kehidupan karena memang kita berangkat dari sandaran religius yang berbeda, tapi kita senantiasa saling menghormati karena sadar perbedaan itu memperkaya pemahaman, media belajar dari-Nya untuk menjadi arif, bukan untuk saling melukai. Hhh... sering bila tak sengaja tercebur dalam diskusi berkepanjangan di milis dengan teman-teman dari latar keilmuan berbeda (sst, kadang terasa seperti debat kusir...), aku sungguh sangat merindukanmu.
Mungkin benar, sobat, kau adalah saudaraku dalam kehidupan sebelumnya. Kita takkan pernah menjadi pasangan karenanya, tapi kau tahu yang lebih berarti? Menyadari aku memiliki sahabat sepertimu. Andai aku harus menempuh hidup ini sendiri tanpa seorang pun mendukung pilihan keputusanku, aku tahu, aku bisa mengandalkanmu...
*setelah telpon tengah malam kita... :-)
Dan bukankah hati kita tetap dekat? :-)
Dulu, perkenalan kita diawali oleh tanyaku yang tergesa karena merasa terlambat, dosennya belum datang, ya? Belakangan kau bilang, untung aku menegur lebih dulu waktu itu karena sulit bagimu untuk memulai percakapan denganku. Masa sih? Heranku tak habis pikir. Katamu lagi, aku tipe perempuan yang menimbulkan rasa segan. Seolah selalu punya tujuan dengan apa yang kulakukan dan karenanya bahasa tubuhku berkata, jangan coba-coba mengusik dengan hal tak penting. Ha ha.... ada-ada saja.
Tapi mungkin ada benarnya, buktinya ketika aku bertualang ke Bali selama dua minggu atau pulang ke rumah menyeberangi laut sendirian, tak ada orang iseng yang berani jail. Aman... :-)
Sejak itu kau adalah sahabat terbaikku. Kau mengenal dan memahamiku dengan sangat baik, begitu pun sebaliknya. Walau kadang pengenalanmu tentangku membuatku heran; oya, aku begitu? Ha ha... Aku sadar, kadang perlu orang lain untuk menilai diri kita. Dan seorang sahabat adalah yang terbaik untuk itu, yang akan mengatakan sejujurnya juga hal yang tak ingin kita dengar.
Kedekatan kita juga sempat membuat teman kampus berkasak-kusuk. Ingat? Andai mereka tahu, kamu justru pernah menjadi kurir ketika aku mengirim puisi pada seorang cowok. Ha ha...heran juga, aku pernah sekonyol itu, ya...
Waktu itu kamu bilang, dia tidak pantas menerimanya, dia tidak mengenalku yang sebenarnya dan tidak berniat untuk memahami orang lain selain dirinya. Kamu benar, meski aku sempat keras kepala, waktu akhirnya membuktikan kalau kamu benar, sobat.
Kau tahu, ada masa ketika aku rindu sekali berbincang bebas denganmu, tanpa dibatasi pulsa! :-) Bukankah kita biasa mendiskusikan apa saja dulu? Kita pernah merumuskan apa yang harus kita capai dalam hidup, kita berdebat, menyisihkan hal yang tak perlu dan bersepakat. Kita juga pernah mendiskusikan fakta-fakta kehidupan yang sering disalahtafsirkan, atau mencari kemungkinan penafsiran baru. Kita pun pernah membincangkan; apa ya, yang sedang dilakukan Tuhan saat ini?
Namun kau juga ingat kan, kita sering tak sepakat terutama bila menyangkut akhir kehidupan karena memang kita berangkat dari sandaran religius yang berbeda, tapi kita senantiasa saling menghormati karena sadar perbedaan itu memperkaya pemahaman, media belajar dari-Nya untuk menjadi arif, bukan untuk saling melukai. Hhh... sering bila tak sengaja tercebur dalam diskusi berkepanjangan di milis dengan teman-teman dari latar keilmuan berbeda (sst, kadang terasa seperti debat kusir...), aku sungguh sangat merindukanmu.
Mungkin benar, sobat, kau adalah saudaraku dalam kehidupan sebelumnya. Kita takkan pernah menjadi pasangan karenanya, tapi kau tahu yang lebih berarti? Menyadari aku memiliki sahabat sepertimu. Andai aku harus menempuh hidup ini sendiri tanpa seorang pun mendukung pilihan keputusanku, aku tahu, aku bisa mengandalkanmu...
*setelah telpon tengah malam kita... :-)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar